Ada yang sangat ingin kautemui? :)

Ruang Televisi: "Sepatu Baru Harap."

“Kucil! Aku pergi jalan-jalan, ya!” teriak Harap riang dari balik pintu depan rumah.

“Sesukamu!” jawab Kucil tidak kalah teriaknya dari dapur.

“Fuck you, Kucil!!” Harap pergi tanpa menghilangkan keriangannya. Sehingga ucapannya tak terdengar seperti umpatan.

“Yeah,” Kucil menyalakan keran, “Orang brengsek sedang mencuci piring.”

Seminggu ini Harap sedang senang jalan-jalan. Tanpa Kucil. Sepertinya Harap selingkuh. Ya, memang Kucil telah diselingkuhi. Hal pertama.

Bagian kedua yang tidak menyenangkan bagi Kucil adalah ketika Harap menjawab pertanyaan tentang ia selingkuh dengan siapa: Kau yakin ingin mendengarnya? Oke, aku selingkuh dengan sepatu baruku.

Oh, ya! Menarik sekali bagi Kucil yang seminggu ini ditikung oleh sebuah sepatu.


Hingga datang hari di mana Kucil dituduh menyembunyikan sepatu Harap yang sudah tidak baru lagi namun telah menjadi sepatu kesayangannya.

“Demi Tuhan, aku tidak menyembunyikannya, Harap!” jawab Kucil yang kesal pada Harap karena menuduhnya berulang-ulang.

“Lalu sekarang dimana sepatuku? Ia tidak ada di tempat, Kucil!” Harap berjongkok lesu di depan Kucil.

“Ha? ‘Ia’ katamu? Oh, Tuhan.. sepatu itu sudah menjelma menjadi makhluk hidup. Kau tega-teganya menginjak, padahal ‘ia’ bernafas,” Kucil membuka bungkus rokok.

“Kau merokok tiap hari, kau menghabiskannya. Apa itu namanya kalau bukan kau membunuhnya?”

Kucil menyalakan pematik dan menghisap rokoknya, “He, rokok pernah bicara padaku lewat asapnya. Ia berkata bahwa lebih baik ia mati pada puntungnya, daripada mati tercelup air.”

“Ya! Sama seperti aku menginjak sepatuku, ia senang diajak jalan-jalan. Daripada mati di dalam rak,” Harap berdiri mematikan televisi yang sedang ditonton Kucil.

“Kakimu bau!!” Kucil kesal melihat Harap yang meloyor pergi setelah mematikan televisi.

“Asap rokokmu bau kentut!!” Harap pergi ke dapur.

Tak lama, “Siapa yang membuang sepatuku di tempat sampah, hah?!” teriak Harap histeris dari dapur. Ia membawa tempat sampah ke hadapan Kucil.

“Siapa lagi kalau bukan kau!” Harap menjatuhkan tempat sampah berukuran sedang itu kemudian berserakan di sekitar kaki Kucil. Kontan Kucil berdiri di atas sofa bambu sambil tertawa.

“Demi Tuhan katamu? Demi Tuhan kau bilang itu padaku kalau kau tak menyembunyikannya!” Harap benar-benar marah.

Kucil tertawa sambil mematikan rokoknya di asbak, “Aku-tidak-menyem-bunyi-kannya. Aku-mem-buang-nya! Hahahahaha!!”

“Fuck you, Kucil!!!” sekarang sangat terdengar lebih dari umpatan.

Kucil tertawa kencang sekali sambil menari-nari di atas sofa bambu, seakan-akan semerbak sampah yang bertebaran tak tercium sama sekali. Ia bahagia. Rivalnya telah mati sesak nafas di tempat sampah.

***

Ini bukan kalimat basa-basi dari mereka,
melainkan karena kau harus benar-benar baik-baik saja..

Ini bukan kalimat basa-basi dari mereka,<br>melainkan karena kau harus benar-benar baik-baik saja..