Ada yang sangat ingin kautemui? :)

Ruang Televisi: "Tentang Surat Persahabatan."

Tadi pagi Harap menemukan secarik surat saat pulang dari minimarket. Ia memutuskan untuk mengambilnya karena surat tersebut terlihat menarik pada warna sampul kertasnya. Magenta. Harap langsung mengira pasti surat itu dari seorang wanita.

Benar adanya.

“Cil, aku tadi menemukan surat dan aku belum membaca isinya,” Harap menaruh satu kaleng soda dan satu botol besar jus buah aneka rasa.

Kucil yang sedang menuruni anak tangga akhirnya sampai di lantai bawah. Ia baru selesai mandi. Harap sangat menyukai aroma Kucil yang baru mandi. Segarnya melebihi dari kesegaran pagi di kolam renang.

Harap sedang di dapur memilah-milah belanjaannya. Kucil masih mengusap-usap rambutnya dengan handuk kecil berwarna putih.

“Kau tadi bilang apa?” tanya Kucil sambil menghampiri Harap.

Harap menoleh ke kanan ke arah suara Kucil lalu tersenyum lebar melihat Kucil sudah mandi, “Segarnya!”

Kucil agak melongo, “Hah? Kayaknya tadi kau bicara panjang, kan?”

Harap tertawa, “Ooh.. itu lho tadi aku menemukan surat tapi b—”

“Kau beli apa?”
tanya Kucil memotong penjelasan Harap yang masih setengah. Kucil celingak-celinguk ke dalam kantong putih hasil belanjaan Harap.

Wajah Harap datar, “Lupakan aku membeli apa, karena kau bisa melihatnya sendiri.” Harap memperlihatkan surat tersebut, “Dan kau bisa lihat ini? Ini surat.”

Wajah Kucil cuek, “Surat apa? Surat untukku? Kenapa warnanya perempuan sekali?”

Harap berdeham memulai penjelasan tentang surat tersebut. Setelah mendengarnya, Kucil berkata bahwa terlalu lancang bila membacanya, karena bisa saja itu sangat rahasia. Namun Harap bersikeras untuk izin membacanya karena insting wanitanya mulai berjalan. Kucil menyerah. Ia takluk pada wanita yang memohon. Namun ia takkan takluk pada wanita yang memohon Kucil untuk memakai kerudung. Ya, untuk apa juga.

Mereka sudah ada di balkon. Duduk di sana atas permintaan Kucil karena siang ini begitu panas. Ya, ini pukul 12.47, Kucil yang bangun kesiangan.

Harap membuka kertas itu hati-hati. Surat itu dilipat menjadi bentuk rumah. Rumah yang sederhana. Kertas tekstur sulur-sulur yang indah itu berwarna magenta. Salah satu warna kesukaan Harap. Mungkin karenanya Harap tertarik memungut surat tersebut. Harap mengetahui bahwa kertas origami rumah itu adalah surat karena di sisi belakangnya tertera tulisan: Untuk Sahabat-sahabatku.

Kertas itu telah terbuka sempurna, ternyata bukan tulisan tangan, melainkan tulisan digital menggunakan komputer. Harap menghela nafas.

Kucil yang sedari tadi memperhatikan jemari Harap membuka surat tersebut melirik ke arah wajah Harap, “Kenapa kau menghela nafas? Memangnya membuka kertas origami saja begitu melelahkan?”

Harap menggeleng kepala pelan, “Bukan tulisan tangan. Mungkin akan lebih dramatis bila ditulis tangan.”

Kucil tertawa kecil, “Memangnya kau tahu dari mana surat itu akan bernuansa dramatis? Bisa saja itu surat untuk temannya minta tolong belikan pulsa!”

Harap menempeleng pelan kepala Kucil menggunakan kertas tersebut, “Jangan sembarangan! Kau baca judul cerita ini, tidak?”

“Tentang Surat Persahabatan? Oke, oke.. Harap sensitif dengan kata persahabatan~” Kucil cekikikan menggoda Harap yang sama sekali tidak merubah wajah seriusnya. “Ya, ya, ya.. bacakan suratnya.”

“Tanggal 29 Maret? Suratnya belum sampai di tempatnya, Cil.. Sekarang kan masih Februari.”

“Kan bisa saja 29 Maret 2012 lalu. Lagipula kenapa harus menganalisis dahulu sih? Bacakan saja dengan tenang kan lebih baik,” Kucil mulai sewot.

Harap mulai membaca.

Ternyata membaca dalam hati.

Kucil mengguncang-guncang bahu Harap dengan gemas, “Baaaacaaaakaaaaann!! Bukan baca di dalam hati haaaaaaaaaaahh!!”

Harap tertawa terbahak-bahak, “Hahahaha! Maafkan aku, aku terbawa suasana! Hahaha!”

Setelah kurang lebih lima menit berlalu mereka bertengkar lucu, pada akhirnya berhenti juga. Harap kembali melanjutkan membaca suratnya. Oh, ya, tentu saja tidak dalam hati. Karena kalau tidak, Kucil berjanji akan tidur siang sampai pukul tujuh belas!

“Hai, teman-teman. Lama tak jumpa. Ya, kalian terlalu sibuk. Atau mungkin aku yang tidak siap kalau kalian sibuk?” Entah Harap berhenti di sana. Ia terdiam, dan matanya mulai berkaca-kaca. Ia seperti membaca kembali apa yang telah ia tuliskan.

“Harap?” Kucil menyelidiki wajah Harap. “Kumohon, Harap, jangan mengatakan hal yang akan menakjubkanku.”

Kucil sepertinya benar-benar mengetahui isi otak Harap hingga ke akar-akarnya. Harap hanya menunduk dan akhirnya menetes juga air dari matanya yang terpejam perih. Deras.

Tidak ada yang lebih membingungkan seorang pria selain melihat wanitanya menangis. Kucil memeluk Harap. Erat.

***

Ini bukan kalimat basa-basi dari mereka,
melainkan karena kau harus benar-benar baik-baik saja..

Ini bukan kalimat basa-basi dari mereka,<br>melainkan karena kau harus benar-benar baik-baik saja..